| Prof. Gunawan Suryoputro (Rektor Uhamka) |
Jakarta.Korankampus.com- Universitas
Muhammadiyah
Prof. DR. Hamka berhasil menyelenggarakan seminar Internasioanal First Annual
International Conference on Natural and Social Science Education
(ICNSSE), dengan mengangkat tema Innovative Research in Science and
Education in The Distructive Era. Kegiatan yang dilaksanakan hari Rabu,
(21/10) ini diselenggarakan secara daring dihadiri
sekitar lebih dari 300 peserta dari berbagai Universitas serta
dihadiri oleh beberapa keynote speaker
yang telah malang melintang dalam dunia pendidikan diberbagai belahan dunia
yang diantaranya Kazutaka Aonuma
dari University of Tsukuba
Japan, Abdul Rahim
Othman dari Universitas Teknologi Petronas
Malaysia, Robert
Kleinsasser dari Arizona State University USA, Lynn Clouder dari Coventry
University UK, dan Anne Cullen dari Griffith University Australia.
Sesuai dengan nama kegiatan yang disajikan, kegiatan
ini mengangkat isu tahunan mengenai, revolusi pendidikan diera 4.0 serta
membahas tentang pentingnya kemampuan individu dalam beradaptasi dimasa
digitalisasi pendidikan akibat pandemi Covid-19 ini.
Gunawan selaku Rektor Uhamka menyatakan bahwa "kegiatan
ini sangat penting diselenggarakan terutama diera pandemi saat ini. Pendidikan
saat ini sudah terdisrupsi oleh perkembangan digitalisasi teknologi atau Saya sebut
dengan istilah Education in Disruption Era Plus, perlu
penyesuaian dan kemampuan beradaptasi dari berbagai pihak untuk memastikan
pendidikan di bangku sekolah maupun di Perguruan Tinggi berjalan dengan baik,
Gedung mewah dan mengajar dengan cara konvensional sudah tidak relevan lagi”
Ujarnya.
Lebih lanjut
Rektor Uhamka menyampaikan, “ Era disrupsi 4.0 Plus ini merupakan
kewajiban peralihan teknologi dengan fokus utama data dan manusia sebagai
penggerak utama. Ketika era disrupsi 4.0 berbicara tentang kemungkinan
peralihan maka 4.0 Plus menekankan kewajiban untuk beralih. Misalnya pada masa revolusi industri 4.0 ini
seminar-seminar atau konferensi biasanya dilaksanakan secara utuh di hotel
hotel, kampus, atau digedung lainnya. Teknologi hanya sebagai pelengkap saja,
misalnya informasi via internet melalui website, google form, dan sebagainya.
Pada masa disrupsi 4.0 plus teknologi menjadi tumpuan utama, tanpa
teknologi maka aktivitas seminar tidak bisa dilaksanakan sebab terbentur dengan
aturan yang melarang kita untuk mengadakan secara langsung dengan peserta
begitu banyak.
Dengan istilah disrupsi
4.0 Plus ini, lambat laun masyarakat akan terbiasa dalam memanfaatkan dunia
maya sebagai tumpuan utama yang nantinya akan menjadi jembatan menuju industri
5.0 yang dicetuskan Jepang pada World
Economic Forum (WEF) yang hanya fokus pada society.
Pendidikan di Indonesia masa disrupsi 4.0 Plus masih
harus menghadapi banyak tantangan. Rektor Uhamka menegaskan bahwa pendidikan
berbasis tes atau ujian belumlah menjadi solusi yang efektif dalam usaha
memonitoring perkembangan peserta didik serta pendidikan berbasis tes masihlah
dirasa belum efektif dalam usaha mengembangkan SDM Indonesia yang berkualitas,
karena menurutnya pendidikan berbasis tes tidak seutuhnya menggambarkan
kemampuan peserta didik”.
“Proses monitoring dan pengembangan SDM menjadi
individu yang kreatif dan inovatif masih menjadi tantangan dalam proses pembelajaran
sejauh ini. Sejauh ini institusi pendidikan di Negara kita terfokus pada pendidikan
berbasis ujian sebagai instrumen yang menentukan kesuksesan peserta didik yang belum tentu merefleksikan kemampuan
seorang peserta didik dan belum tentu menggambarkan capaian peserta didik
secara akurat.”
Tegas Gunawan. (ERU)